[/gigya width="200" height="200" src=" http://www.widgipedia.com/widgets/orido/RamadhanSound-4551-8192_134217728.widget?__install_id=1248336094072&__view=expanded" quality="autohigh" loop="false" wmode="transparent" menu="false" allowScriptAccess="sameDomain" ]

Tampilkan postingan dengan label alquran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alquran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Menguatkan azzam



marilah kita mulai merenungi tentang seberapa mendesaknya kebutuhan kita akan belajar Al Qur’an. Marilah kita menemukan hujjah-hujjah yang menguatkan ‘azzam kita ini, sehingga kita tidak lagi memposisikan Ilmu qiro’at Al Qur’an sebagai ilmu yang terakhir kita perhatikan, melainkan yang paling utama dalam urutan daftar pengkajian kita. Sarana kewajiban adalah wajib Hukum asal membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah wajib ‘ain.

...Sementara hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Artinya, jika sudah ada beberapa orang yang belajar ilmu tajwid, maka gugurlah kewajiban belajar bagi yang lainnya.
...Dalam banyak kasus, hal ini sering dijadikan alasan bagi sebagian orang yang enggan belajar Al Qur’an. “Sudah banyak orang yang belajar Al Qur’an, maka saya sudah terwakili.” Jika kita melihat dari sisi ini, maka benar jawaban bahwa mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Tapi perlu juga dipahami bahwa ada kaidah yang menyatakan, Lil wasail hukmul maqosid —hukum sarana disesuaikan dengan hukum tujuan. Maksudnya adalah, jika melaksanakan shalat hukumnya wajib, maka belajar tata cara shalat menjadi wajib. Begitu pula membaca Al Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid. Jika kita tidak belajar, bagaimana mungkin kita akan bisa? Jika kita tidak bisa, bagaimana mungkin kita akan shalat? Apakah mungkin ilmu itu akan turun begitu saja....????
... Rasulullah sendiri bertalaqqi kepada Malaikat Jibril, padahal beliau adalah seorang yang ucapannya paling fashih. Tidakkah kita memahami hakikat ini? Kifayah Artinya mencukupi Terkadang kita sering salah memahami makna kifayah.
... Kita memaknai hukum kifayah itu dengan “Saya tak perlu belajar lagi karena sudah ada orang yang belajar Al Qur’an”. Padahal makna kifayah adalah mencukupi. Dan mencukupi berarti keseimbangan antara jumlah orang yang mampu dengan orang yang tidak mampu. Jika jumlah muslim di Indonesia 200 juta misalnya, maka berapa idealnya jumlah penghafal Al Qur’an? Anggaplah 1:10. Itu artinya 20 juta. Yakinkah kita bahwa sudah ada 20 juta orang yang hafal Al Qur’an di negeri ini? Kalaupun seandainya benar ada, tidak maukah kita mejadi bagian dari yang 20 juta itu? Dan pertanyaannya sekarang, berapa jumlah sebenarnya shohib Al Qur’an di negeri ini? Sudahkah mencukupi sehingga batal kewajiban kita belajar Al Qur’an? Keutamaan Al Qur’an Jika antum memahami keutamaan belajar Al Qur’an dan keunggulan menjadi Ahlul Qur’an, maka antum akan menemukan hal-hal yang menakjubkan. Di antara hadits-hadits Rasulullah tentang hal ini adalah…
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an”
“Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya”
“Didatangkan pada hari Qiamat Al Qur’an dan Ahlinya, yakni orang-orang yang dulu mengamalkannya di dunia. Surat Al Baqarah dan Ali Imron maju mendampinginya dan membelanya”
“Barangsiapa yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya, akan diberikan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, “mengapa kami dibei ini?” Maka dijawab, “Karena anakmu yang telah mempelajari Al Qur’an.”
“Barang siapa yang disibukkan Al Qur`an dalam rangka berdzikir dan memohon kepadaKu, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Kuberikan pada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalam Allah dari seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhlukNya.”
“Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan Al Qur`an.”
“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari golongan manusia.” Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, ya Rasulullah?’ Rasul menjawab, “Ahlul Qur’an. Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihanNya”.
wallahu a'lam...
ikhwah fillah
.. tetap jaga azzammu..
kuatkan tekadmu..
agar al-qur'an tetap bergetar dihatimu...
menggempar dalam amalanmu..
mengokoh dalam tapak langkahmu..
menyejukkan dalam setiap senyummu...

Adab-Adab membaca Alquran

Di antara adab-adab membaca al-Qur'an ada yang wajib, ada yang sunnah dan ada pula yang dianjurkan menurut beberapa ulama meski tidak ada konteks dalilnya.
Pertama: Adab-adab Hati.
1- Seorang pembaca al-Qur'an seyogyanya mengikhlaskan diri hanya untuk Allah semata ketika membaca al-Qur'an dengan tujuan mendapat ridho dan pahala dari-Nya, menghadirkan keagungan kedudukan al-Qur'an di dalam hati, penuh perhatian pada ayat-ayat yang dibacanya bahwasanya kalam itu bukanlah perkataan manusia. Dan hendaknya seorang pembaca tidak menginginkan dari membaca al-Qur'an kemuliaan kedudukan bagi orang yang cinta dunia.


2- Menghadirkan hati, mengusir bisikan-bisikan jiwa ketika tilawah dan menjaga kedua tangannya dari keisengan dan kedua matanya dari segala hal yang lain yang menyibukkannya.
3- Penuh tadabbur (penghayatan) dan berusaha untuk menguasai kandungan maknanya. Karena itu adalah salah satu perintah Allah Tuhan Semesta alam yang membuat seorang hamba selalu bergairah untuk mengamalkannya setelah ia memahaminya dan mentadabburinya.
4- Hendaknya hati seorang pembaca al-Qur'an senantiasa konek (terhubung) dengan setiap ayat yang menyentuh sehingga ia bisa memikirkan pada setiap makna-makna asma Allah dan sifat-sifat-Nya seperti yang dipahami salaf shalih dahulu, meniru tindak-tanduk para nabi dan orang-orang shalih terdahulu serta mengambil ibroh (pelajaran) dari akibat buruk orang-orang yang telah mendustakan Allah swt. Begitu seterusnya.
5- Merasakan secara mendalam bahwa khitab (objek pembicaraan) setiap ayat ditujukan kepadanya secara pribadi.
6- Terpengaruh. Sehingga dirinya bisa selalu merespon setiap ayat yang dibaca. Ketika melewati ayat yang menceritakan tentang ancaman Allah, maka ia meresponnya dengan rasa takut, di saat melewati ayat yang memberikan janji akhirat maka ia senang bergembira, ketika membaca asma dan sifat-sifat Allah swt ia menunduk patuh, ketika melewati ayat-ayat yang berbicara tentang kaum kafir dan buruknya sikap mereka maka suara tilawah harus direndahkan dan hatinya merasa malu lantaran rendahnya adab mereka, merasa rindu ketika disebut keadaan surga dan gemeteran ketika disebut nama neraka.
7- Merasa lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun seraya menyerahkan segala daya dan kekuatan kepada-Nya saja. Serta memandang dirinya dengan kacamata keridhoan dan melakukan pensucian diri (tazkiyah).
8- Mengusir tirai-tirai penghalang yang menghalangi pemahaman seperti misalnya hanya terfokus sepenuhnya pada tajwid dan lainnya berupa teori. Seorang pembaca juga harus mencukupkan diri mendalami makna ayat dengan cara membaca tafsiran ayat-ayat yang dibaca.
9- Memohon kepada Allah ketika melewati ayat-ayat yang berisi rahmat Allah (kasing-sayang Allah) dan berlindung (mengucapkan ta'awwudz) ketika melewati ayat-ayat tentang siksa.
Kedua: Adab-adab yang Berkenaan dengan Zahir (lahir):
1- Disunnahkan bersuci dan berwudhu sebelum memulai tilawah al-Qur'an, seperti yang disabdakan Rasulullah dari riwayat Ibnu Umar: 
لاَ يَمُسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ
"Tidak boleh menyentuh al-Qur'an kecuali orang-orang yang suci." (Shahih Jami' / 7657)
2- Bersiwak atau mengosok gigi atau membersihkannya. Karena itu adalah sarana untuk sampai kepada kebersihan hati ketika membaca al-Qur'an.
3- Diutamakan menghadap kiblat ketika membaca al-Qur'an karena kiblat adalah sebaik-sebaik arah.
4- Berlindung kepada Allah godaan setan yang terkutuk dan membaca basmalah ketika memulai dari awal sebuah surah.
5- Mentekadkan diri untuk selalu membacanya setiap saat, tidak berniat melupakannya, dan berusaha untuk tidak melewati satu haripun kecuali dengan membaca al-Qur'an al-Karim meski sedikit sehingga ia tidak dilupakan oleh Allah dan tidak dianggap sebagai golongan orang-orang yang menerlantarkan mushaf al-Qur'an.
6- Tidak memutuskan ayat dengan ucapan yang tidak ada faidahnya.
7- Sebisa mungkin memperindah suara ketika membaca al-Qur'an, karena Rasulullah Saw pernah bersabda:
زَيِّنُواالْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ صَوْتَ الْحَسَنِ يَزِيْدُ القُرْآنَ حَسَناً
"Hiasilah al-Qur'an dengan suara-suara indah yang kalian miliki. Karena sesungguhnya suara yang indah itu akan menambah keindahan al-Qur'an." (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Jami' / 3580). Selain juga seseorang disunnahkan untuk membaca al-Qur'an dengan tartil dan tidak membacanya dengan cepat tanpa ada alasan syar'i.
8- Menghormati mushaf al-Qur'an, tidak meletakkannya di lantai atau menumpuk sesuatu lain di atasnya, dan tidak melemparnya serta tidak menyentuh kecuali dalam keadaan suci.
9- Memilih tempat yang sesuai seperti masjid atau di rumah yang jauh dari kebisingan, aktifitas berisik dan tidak membaca di kebun dan lain sebagainya.
10- Memilih waktu dan saat yang sesuai, misalnya di saat Allah turun ke dunia, di mana rahmat-Nya sedang dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya, yakni waktu sepertiga malam yang akhir dan waktu ba'da subuh (fajar).
11- Berusaha untuk menangis ketika membaca al-Qur'an, terutama ketika membaca ayat-ayat yang menyebutkan tentang siksa dan azab, peristiwa kiamat. Apabila tidak bisa menangis, maka paksakan untuk menangis dan pura-puralah menangis, karena pura-pura menangis akan memancing tangisan beneran. Kendati tidak bisa juga menitikkan air mata, maka usahakanlah untuk menangisi diri, hati dan ruh (jiwa) karena belum dimudahkan merasakan kenikmatan Allah yang satu ini (menangis karena-Nya) disebabkan hati yang keras, sakit dan mata yang berdosa. Ya Allah lindungilah kami dari mata yang tidak bisa menangis karena-Mu dan dari hati yang tidak khusyu'.
12- Sementara bagi orang yang mendengar hendaknya ia beradab dengan adab-adab sebelumnya di atas, ditambah lagi dengan mendengar secara seksama,dan penuh tadabbur.  Ia juga tidak hanya sekedar membuka kedua telingannya saja, tapi juga perasaan dan jiwanya, sesuai dengan firman Allah swt:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya: "Dan apabila dibacakan kepadamu al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat." (Qs Al-A'raf [7]: 204).
Saudaraku...Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita dalam berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya ini, Amiin.
Wallahu A'lam