[/gigya width="200" height="200" src=" http://www.widgipedia.com/widgets/orido/RamadhanSound-4551-8192_134217728.widget?__install_id=1248336094072&__view=expanded" quality="autohigh" loop="false" wmode="transparent" menu="false" allowScriptAccess="sameDomain" ]

Rabu, 20 Juni 2012

Ketika Pilihan Ku Selalu Ditolak....

Sebut saja namanya Zahra (bukan nama sebenarnya), Zahra adalah gadis yang sangat taat kepada kedua orang tuanya. Zahra sangat mencintai Islam dan ingin mendalami Islam lebih dalam. Walau sebenarnya tidak ada keluarganya berasal dari  santri, tapi Zahra punya keinginan setamat SD ingin masuk pondok pesantren lalu kuliah ke Al Azhar university mesir. Tapi sayang, keinginan itu tidak terwujud karena ayah dan ibunya tidak menyetujui nya, ayah nya ingin Zahra menjadi dokter, sehingga tanpa sepengetahuan Zahra dan bermusyawarah terlebih dahulu, Zahra sudah di daftarkan ke SMP negeri yang ternama. Zahra hanya pasrah, walau sebenarnya dia tidak suka, dia berusaha untuk ikhlas menerima ketetapan Allah ini. Sempat terpikir dalam benak Zahra ingin menjadi anak asal-asal saja di sekolah, tapi...apalah guna baginya, semua itu tdk akan bisa membuat ayahnya luluh. Zahra berbeda dg anak2 yang lain, yg menjadi stess dan menjadi anak ugal-ugalan bila berbeda pendapat dg ortunya. Karena Islam lah yg membuat Zahra tetap taat pada ortunya.Dlam usahanya tetap belajar ikhlas, Zahra termasuk anak yg berprestasi di sekolah, juara umum selalu dia dapatkan. Hingga, akhirnya Zahra memang harus mengubur dalam2 cita2nya ingin kuliah ke Al azhar. Dia diterima di universitas sriwijaya fakultas kedokteran. Hari demi hari ia lalui sambil mengobati hati yang sempat terluka. Suatu saat, Zahra sempat berta’aruf dengan ikhwan yng msih kuliah di LIPIA Jakarta, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapii....lagi2 saat ikhwan ini datang ke rumah Zahra, hendak meminang Zahra. Kedua orang tua Zahra menolak mentah2, hanya alasan ikhwan itu belum punya pekerjaan tetap. Ternyata kedua ortu Zahra ingin anaknya menikah dengan laki2 yg bekerja di Pertamina, sebagaimana Ayah Zahra bekerja.
Untuk kedua x nya Zahra harus ikhlas menerima keputusan itu, ia menanggis dalam sujud2nya, bukan karena sedih tak berjodoh, tapi sedih dengan cara kedua ortunya yang menolak mentah2. Ujian keimanan ini tidaklah membuat Zahra sedih berkepanjangan, dia tetap menghormati ayah dan ibunya. Tiga bulan setelah lamaran,

Ternyata rencana Allah memang lebih indah, tidak jadi menikah Zahra didekatkan Allah dengan Alquran, Allah memberi kado terindah kepada Zahra untuk menghafal alquran di Jakarta. Tapi....lagi2, saat ingin meminta izin kepada ortunya, keduanya menolak, bahkan bukan hnya menolak, tapi mencurigai Zahra kalo kepergiannya ke Jakarta karena ingin mengejar laki2 yg pernah melamarnya. Zahra sudah menjelaskan kalo niat dia benar2 karena Allah, bahkan sampai bersumpah dan bersujud dikaki ayahnya. Tpi hanya kata2 kasar yg keluar dari mulut ayahnya. Karena bujukan kakak Zahra, akhirnya ayah dan ibunya merestui kepergian Zahra ke Jakarta.

            6 bulan sudah Zahra di Jakarta, melewati hari demi hari dengan Alquran.Ternyata tak sampai disitu saja ujian Allah. Zahra mendapatkan ujian spesial dari Allah, yaitu sakit. 6 bulan terakhir itu dia suka sakit2an, tapi Zahra menyimpannya dari keluarganya. Hingga saat zahra jatuh pingsan, pembimbing pondok memberi kabar kepada keluarga Zahra. Karena sakitnya Zahra disuruh pulang ke kampung kelahirannya, walau sebenarnya hati Zahra tak mau pulang. Saat pulang, Zahra bukannya di sambut baik, tapi di jatuhi kalimat2 ucapann yang menyakitkan, baik dari ayah ibu dan saudara2 kandungnya. Ibunya bilang ”kamu itu gak sakit, tapi karena kamu itu terlalu bnyk pikiran, niat kamu ngafal quran itu gak tulus tapi ada niat yang lain, ada yg kamu pikirkan selama disana, pasti kamu itu memikirkan laki2 itu kan?? Sudah sekarang kamu tidak usah kembali lagi ke jakrta, teruskan kuliah kamu. Sakit hati ibu ini kamu gak pernah nurut.” Zahra menanggis mendengar kata2 itu keluar dari seorang wanita yng ia hormati, ”Bu sumpah demi Allah,tak pernah melintas dlm pikiran ku utk mengejar laki2 itu, sejak kalian menolak lamarannya sejak itulah kami tdk pernah berhubungan lagi. Ya, aku memang banyak pikiran disana, aku memikirkan kalian keluarga ku yg sampai saat ini masih tak percaya dg ku, padahal kalian keluargaku yg tau aku dari kecil tapi kalian seperti org asing. Sementara org2 yg baru kenal aku bbrpa bulan  mereka percaya dg ku, bhkan sangat percaya. Baiklah aku memang tidak sakit, tak perlu aku berobat.”, jelas Zahra sambil menanggis.

Dada Zahra terasa sesak, dinding dikamarnya terasa seperti ingin menghimpit tubuhnya, kata2 itu membuat Zahra terpukul. Zahra terus berdoa kepada Allah, agar Allah saja lah yang menjelaskan semua perasaanya kepada keluarganya terutama ayah n ibunya. Seminggu sudah zahra di kampung halamannya, Zahra hanya menahan sakitnya, jika sakit ia mengunci pintu kamarnya, percuma aku mengeluh toh ibu saja tak percaya.” ungkapnya
Minggu ketiga saat zahra ingin siap2 ke kampus , Zahra jatuh di kamar mandi, lalu dilarikan ke UGD rumah sakit pertamina. Disaat itulah dokter menjelaskan penyakit Zahra, ”anak ibu sakit jantung rematik, syukur cepat di bawah ke rumah sakit. Katup jantungnya sudah bocor, perlu dirawat intensif”. Jelas dokter.
Sang ibu langsung menanggis di pangkuan Zahra, sementara ayahnya berdiri kaku tak mampu berkata apa2. Ibu langsung meninta maaf dengan Zahra.

Zahra sangat senang akhirnya Allah lah yg menjelaskan semuanya kpd ortunya, bukan kata maaf dari ibunya yg Zahra harapkan. Tapi kasih sayang, dan pengertian keluarga. Sejak itu Zahra mengungkapkan isi hatinya kalo dia msih berniat tuk kuliah syariah, dia tdk minat kuliah kedokteran. Sejak saat itu juga ibu ayahnya sangat perhatian, pendirian yg dulu sangat kokoh, kini semakin rapuh dan luluh. Akhirnya, ayah dan ibunya merestui Zahra kuliah sesuai keinginannya. Akhirnya, Ridho itu ia dapatkan, dia lulus di imam muhammad ibnu Suud islamic university (LIPIA). Kini, ia hidup dibwah naungan alquran, walau sakitnya sudah semakin mengerogoti jantungnya...


Ibroh dari kisah nyata ini:

Tetaplah kita taat kepada kedua ortu kita walau terkadang mereka menyakiti kita, karena sakit yg kita rasakan tak sebanding dengan sakit saat ibu mengandung dan melahirkan kita. Berkorban jiwa dan raga. Sebaik-baik rencana adalah rencana Allah..

0 komentar:

Posting Komentar